MENU

Menu
  • Home
  • #TRAVELNOTE
    • Gunung
    • Refleksi
    • Malam Jumat
    • Cerita Perjalanan
  • LINIMASA
    • Catatan Pinggir
    • Catatan Kaki
  • ABOUT
  • DISCLAIMER
  • KATA-KATA
  • TRAVEL BLOGGER
Malam Jumat
Showing posts with label Malam Jumat. Show all posts
Showing posts with label Malam Jumat. Show all posts

Kisah-kisah tak Terlupakan Bagian III

Add Comment
  Malam Jumat

Penampakan perempuan berbaju putih dan anak kecil di Gunung Sumbing. 
Dulu sebelum populer jalur-jalur lain, Desa Garung merupakan jalur pendakian yang aman untuk di lalui dari pada jalur pendakian yang lain. Dari Desa Garung terdapat dua jalur; jalur lama dan jalur baru. Kata penduduk setempat, jalur lama sebenarnya adalah jalur baru dan jalur baru dulu adalah jalur lama, kalian paham kan. Saya bersama kedua teman saya memilih jalur lama melewati kuburan pinggir jalan pas tanjakan. 

Dulu atau mungkin sampai saat ini Desa Garung menyediakan ojek sampai pos 1, kamu bisa memakai jasa mereka untuk menyingkat waktu pendakian hingga sampai di pos pestan setelah pos 3 Sedlupak Roto. Waktu itu saya memilih untuk jalan kaki saja, setidaknya bisa untuk pemanasan sebelum akan bertemu tanjakan-tanjakan yang akan membuat lutut tambah linu. 

Sesampainya pertengahan perjalanan pendakian jauh sebelum pos 1 kami bertiga kehujanan, hujan yang begitu lebat, sore yang basah untuk sebuah pendakian kedua kalinya ke gunung sumbing. Sampai di pos 1 menjelang mau  maghrib, sore itu pos 1 sumbing via Garung sangat ramai oleh pendaki. Menjelang petang, seusai shalat maghrib kami bertiga melanjutkan perjalanan dengan menyusuri hutan dengan trek sumbing yang begitu sedikit sekali bonus dan selalu menemukan tanjakan-tanjakan yang curam dan ditambah lagi dengan tanah basah yang sudah menjadi tanah liat, licin ketika dipijak.

Siapa saja yang pernah menyusuri trek hutan sumbing dari Desa Garung tentu akan tahu bagaimana tanjakan yang panjang dari pos 2 Genus hingga pos 3 Sedlupak Roto. Ketika sampai di trek tanjakan ini, kamu perlu menyiapkan lututmu dengan tanjakan yang panjang tanpa bonus hingga di bawah pestan ( pasar setan ). Karena kondisi tanjakannya yang curam dan licin habis diguyur hujan yang lebat, para pendaki yang melewati jalur ini berusaha sepelan mungki, sefokus mungkin agar tidak jatuh karena licin.
Kami sampai di tanjakan tersebut menjelang jam 23.00 WIB malam, rencana kami akan buka tenda dibawah pestan dan setelah pos 3. Perlu kamu ketahui bahwa pestan adalah tempat yang lapang dan tidak ada rimbunan pohon, untuk menghindari badai kamu harus mencari rerimbunan pohon. 

Suasana  pagi hari camp di bawah Pestan (Pasar Setan ) Gunung Sumbing.

Ketika akhirnya giliran saya yang akan melewati trek berlumpur, saya mendongak ke atas melihat kedua teman saya yang menunggu dengan rasa capek, kedua kalinya saya mendongak keatas tidak ada apa-apa. Hingga akhirnya, saya mendongak ketiga kalinya samar samar saya melihat wanita membelakangi kedua teman saya berdiri memakai kain putih lusuh dengan rambut panjang yang terurai berantakan. Saya menatap terus menerus dengan rasa penasaran barangkali itu manusia, dan lama kelamaan samar-samar yang membelakangi kedua teman saya hilang, sengaja saya tidak cerita. Peraturan pertama dan yang utama ketika kamu di gunung; jangan bilang siapapun kalau kamu sedang melihat sesuatu yang tak kasat mata, biarkan saja.

Kejadian berikutnya setelah perjalanan turun dari tempat kami bertiga mendirikan tenda, hari masih mendung kala itu. Setelah dari puncak, kami memasak logistik yang tersisa di dalam tenda, di luar gerimis semakin deras dan kabut semakin membalut suasana area pestan (baca : pasar setan).  Masakan seadanya itu masih nikmat disantap di tempat sedingin ini, cukup bisa mengisi energi kembali untuk melanjutkan perjalanan turun ke basecamp. Begitu selesai makan dan melipat kembali tenda dan peralatan gunung ke dalam tas carier, setelah berdoa agar perjalanan dilancarkan sampai ke basecamp, kami kemudian melanjutkan perjalanan turun dengan waspada dan hati-hati karena jalur trek pendakian masih basah dan licin.
Saran saya, jika menjelang maghrib sebaiknya pendakian dihentikan, istirahat dulu. Karena menjelang maghrib hantu-hantu dan segala hal yang tak kasat mata akan bermunculan. Di waktu Maghrib ini, sebaiknya kita berdoa kepada Tuhan meminta keselamatan team hingga pulang kembali. 
Singkat cerita, begitu melewati pos 2 mau sampai pos 1 trek mulai berubah menjadi jalur air hingga di jalur trek ini kami harus pelan, jaga-jaga kalau jatuh. Sampai di jalur ini menjelang maghrib, sepanjang jalan turun saya paling belakang, bang botak masih sebagai leader team di depan. Hingga pas adzan maghrib tiba-tiba saya melihat dua anak kecil berseliweran, dua anak kecil gundul tanpa pakai baju itu sesekali menatap kami bertiga kemudian menghilang lagi. Kadang kedua anak kecil yang saya lihat itu berdiri di depan team kami, menatap tajam ke arah saya kemudian menghilang lagi.

Hingga akhirnya kami bertiga sampai di basecamp jam 20.00 WIB habis isya, karena kami hanya jalan kaki dari pos 1 sampai basecamp. Sesampainya di basecamp kami terkejut ternyata teman kami yang dari Wonosobo jemput kami, sepertinya mereka trauma karena kejadian Gunung Sindoro beberapa tahun yang lalu. Alhamdulillah kami dijemput, rencana mau tidur di basecamp akhirnya di batalkan. 

Kisah-Kisah Tak Terlupakan Bagian II

Add Comment
  Malam Jumat



Penampakan dan kejadian aneh yang kita alami di gunung merupakan arti dari definisi tersendiri bagi perjalanan kita untuk meraih puncak, tapi sebagai tamu tentu kita harus menyiapkan badan kita sendiri untuk menjaga segala kemungkinan terjadi. Namun, yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang tamu ketika bertamu di rumah orang adalah menjaga etika dan akhlak, misalnya ; anda tidak perlu bercanda dengan berlebihan sampai mengeluarkan kata- kata jorok. Mungkin anda menyukainya, tapi siapa yang tahu kalau tuan rumah tak menyukai sedikitpun bahkan tidak mau tahu kenapa anda tertawa. 

Orang-orang yang tiba-tiba hilang di gunung, kesurupan, dan diganggu makhluk halus di gunung, semata-mata mereka yang tak kasat mata memperingatkan kita atau justru memberikan kita pesan untuk yang mau ke gunung bahwa "Jangan sembarangan di rumah orang." 

Nenek -nenek berkebaya di gunung Prau
Pengalaman saya bersama kedua orang teman saya ketika pertama kalinya ke gunung Prau, benar benar pertama kalinya. Pertama kalinya juga saya ke daerah Wonosobo Dieng dan juga pertama kalinya saya takjub betapa indah sekali pemandangannya. Bayangkan, temanggung arah Wonosobo di apit oleh kedua gunung antara gunung Sindoro dan gunung sumbing, menariknya lahan perkebunan warga yang tambah begitu betah memandangnya dan ingin berlama-lama.

Sesampainya kami di desa patak banteng, kami langsung mencari basecampnya dengan bertanya pada warga lokal yang ternyata basecamp Prau berlokasi di kantor kecamatan patak banteng. Di pagi itu, basecamp tampak sepi, hanya lalu lalang orang-orang yang tampak, sebelah basecamp ada toko sembako berikut toko oleh oleh. Pagi itu kami istirahat sebelum pendakian di mulai. 

Jam 11.00 WIB siang kami bertiga memulai pendakian Prau untuk pertama kalinya, jalurnya masih asri, vegetasinya masih rapat, dulu belum ada yang berjualan di pos 1 dan sekitarnya, sekarang banyak warga yang berjualan. Warga yang berjualan menyuguhkan air minum, buah semangka dan beberapa gorengan, lumayan untuk para pendaki yang kelelahan. 

Setapak demi setapak, langkah demi langkah kamu lalui bertiga sambil bercanda di sepanjang jalur. Capek berhenti istirahat terus begitu hingga akhirnya jam 13.00 WIB siang kami sampai di puncak Gunung Prau Patak Banteng. Dari saking bingungnya, kami bertiga justru bingung puncaknya yang mana, tugu penanda puncak yang juga tanda batas daerah Wonosobo dan Banjarnegara itu belum kami lihat hingga akhirnya ketika kami beristirahat di samping pohon Pinus yang rimbun sambil makan roti, saya merasa ada yang mengawasi kami bertiga, saya diam saja sambil berjalan untuk mencari penanda batas sementara Sindoro sumbing di selimuti kabut. 

SIANG ITU PUNCAK PRAU TAK ADA ORANG SAMA SEKALI, HANYA KAMI BERTIGA. KOREKSI; HANYA KAMI BERTIGA YANG BINGUNG PUNCAKNYA MANA DAN MAU CAMP MANA. 

Rencana kami bertiga mau bermalam di puncak Prau, langkah pertama kami mencari tempat camp setelah tanjakan menuju pemancar, mencari pemandangan yang tepat berhadapan dengan Sindoro sumbing, sementara kedua gunung itu masih diselimuti kabut yang tebal. Ketika kami sibuk mencari tempat camp, salah satu teman kami mendengar suara perempuan yang cekikikan sementara kami berdua tak mendengar apa-apa. Suasana biasa saja, sampai akhirnya kami menemukan tugu pembatas yg di gunakan sebagai tanda puncak dan buat camp di sebelahnya. 

Tenda sudah didirikan, logistik sudah dikeluarkan dari tas ransel, kami membuat kopi dan mie goreng siang itu dengan sesekali makan roti yang tadi dibeli di toko sebelah basecamp. Sambil nyantai di tenda, kami foto-foto dengan background Sindoro sumbing yang sampai siang itu masih diselimuti kabut, hanya kelihatan puncaknya saja. 

Puas dengan foto-foto, kedua teman saya memutuskan ingin tidur di dalam tenda sementara saya ingin menikmati semilir angin pegunungan yang dingin dan nyaman di luar tenda. Sekali lg di puncak Prau siang itu hanya kami bertiga, tidak orang lain selain kami bertiga.

Hingga akhirnya ...

Saya melihat wanita tua seperti mbah-mbah berdiri di bawah pohon Pinus, memperhatikan kami bertiga. Saya kaget tapi saya masih ingin berpikir positif siang itu, kedua kalinya ketika saya sayup-sayup tidur ada langkah tapak kaki yang mendekati tenda kami, ketika saya lihat tidak ada apa-apa. Sementara satu orang teman kami yg tidur di tenda kaget juga karena ada yg gerayangi sebuah tangan dengan penampakan mbah-mbah. 

Mendengar hal itu, sontak saya kaget, teman saya kaget dan buru buru memutuskan untuk turun. Setelah packing, kami lari dari puncak hingga pos 1 tanpa istirahat sedetikpun. Sesampainya di bawah lereng Prau, desa patak banteng. Kami ditawarkan menginap di rumah warga hingga akhirnya keesokan paginya kami kembali lagi perjalanan ke Jogja. 

Ketika menginap di rumah salah satu warga patak banteng, di lereng gunung prau. Salah satu tuan rumah bercerita tentang seorang mbah-mbah perempuan yang dulu banget naik gunung prau untuk mencari kayu bakar hingga sampai sekarang tidak pernah turun lagi. Menariknya mereka bilang kalau di puncak prau ada burung yang kalau bunyi suaranya lebih mirip kuntilanak jika sedang tertawa.

Jalur pendakian memanjang dan menemui tempat yang sama berkali-kali
Kejadian ini sudah lama terjadi, sekitar akhir maret tahun 2014. Saya dengan teman-teman sebanyak 14 orang memulai pendakian ke gunung sindoro, 14 orang 14 emosi dan 14 manusia yang bermacam-macam karakter bertemu dengan semangat yang menggebu untuk ke puncak sindoro. Tidak ada yang bisa berencana mengenai apa yang terjadi pada kami, tapi kejadian tersebut benar-benar nyata seakan menegur kami bahwa di gunung kami bukan siapa-siapa.

Sebenarnya dari awal pendakian tidak terjadi apa-apa, semua tampak normal, benar-benar pendakian yang normal. Kami membawa nasi bungkus dari rumah salah satu teman kami di Wonosobo agar bisa dimakan di pos 2 sindoro. Perjalanan yang santai sore itu membuat saya dan seluruh teman saya sangat menikmatinya apalagi di lereng gunung yang begitu sejuk dan damai. Kami sampai pos 3 kira-kira sekitar jam 10.30 malam yang ternyata malam itu pos 3 full dengan tenda.

Keesokan harinya, kami kesiangan untuk summit. Satu teman saya tidak jadi ikut ke puncak dikarenakan cidera lutut sebelah kanan dan satu teman lagi menjaganya, jadi yang menunggu tenda dua orang teman saya. Sedangkan saya dan teman-teman yang lain sampai puncak jam 12.30 siang, sekitar 4 jam perjalanan menuju puncak dari pos 3, begitu puas di puncak kami turun. Dalam perjalanan turun dari puncak sindoro hingga pos 3 tampak lancar sekali, satu orang teman saya jatuh duduk karena terpleset di jalur pendakian hingga sampai pos 3 kembali kami memasak buat pengobat lapar. Sore itu benar-benar tidak ada apa-apa yang terjadi di antara kami hingga kejadian yang tidak disangka-sangka terjadi ketika perjalanan turun dari pos 3 menuju pos 1.


Setelah masak dan makan, menjelang maghrib kami turun dari pos 3 hingga adzan maghrib berkumandang pun kami tetap berjalan, menyusuri hutan-hutan sindoro yang rapat. Perjalanan yang santai, jika team sudah tidak rapat maka team depan berhenti, yang tengah dan paling belakang merapat, begitu seterusnya hingga tak terasa kami sampai pos 2. Hingga dipertengahan perjalanan turun dari pos 2 ke pos 1, konflik mulai muncul antara team depan (leader) dengan team belakang (sweeper), ditambah salah satu dari team anggota team depan ada yg cidera juga team belakang cidera hingga timbul emosi. 

Jam di tangan menunjukkan jam 23.00 malam tapi suasana malam itu lebih horor, suara jangkrik yang bersahutan, burung burung hantu juga menambah suasana makin merinding hingga tak terasa kami baru sadar bahwa kami telah melewati jalan yang sama berkali-kali. Malam itu kami tak mendapati satupun pendaki yang sedang mau naik hingga sampai dipertengahan mau sampai pos 1. 

Salah satu cerita oleh teman kami yang jadi sweeper, perempuan tangguh yang tidak mau di ganti posisinya. kalian bisa baca cerita di blognya Disini

"Woi yang di depan berhenti, yang belakang jauh" teriak team belakang memperingatkan team depan agar segera berhenti. 


Team sapu bersih paling belakang mendapatkan keanehan ketika menapak kaki, suara tapak kakinya bersuara 3 kali, yang ganjil suara tapak kaki di dengar tepat di belakang pas, artinya dibelakang pasti ada yang mengikuti kami. 

Mendekati pos 1 kami bertemu dengan rombongan pendaki yang mau naik, rupanya teman kami yang dari Wonosobo menitipkan pesan kepada rombongan pendaki jika kami sedang di tunggu di bawah pos 1. 
"Mas, di tunggu mas Aji di bawah pos 1" kata mas mas pendaki yang dititipkan pesan. 

Singkat cerita..

Menjelang sampai pos 1 kami teriak dan akhirnya teriakan kami di jawab oleh mas Aji, dia bersama temannya lari membopong teman team belakang yang sedang cidera juga team depan. 

Malam itu jam menunjukkan 02.30 pagi, kami saling berdiam diri di mobil pickup yg di bawa mas aji untuk menjemput kami dan kemudian di bawa ke rumahnya untuk istirahat. 

Sesampainya di rumah mas Aji, kami semua berisitirahat dan mengucapkan syukur Alhamdulillah akhirnya kembali dalam keadaan selamat. Kami beristirahat di sambi bercerita satu sama lain soal kejadian yang baru saja menimpa kami. Dan benar saja, masing masing banyak yang menyadari penampakan aneh dan yang lebih ngeri lagi, jalan jembatan kecil yang kami lewati ternyata kami melewatinya berkali -kali, sempat teman saya menandai jembatan kecil tersebut dengan kain simpul warna merah, ternyata dia melihatnya tiga kali. Teman saya ada yang di ikuti sampai rumahnya Mas Aji hingga besoknya dia di ruqyah sebelum pulang ke rumah asalnya.

Semenjak itu kami memohon maaf satu sama lain, karena emosi satu team yang tak bisa di bendung. Kejadian apa yang kami alami merupakan pelajaran khususnya buat kami agar lebih bisa menjaga ritme emosi dan lebih sabar.
















Kisah - Kisah tak terlupakan I

Add Comment
  Malam Jumat



Gunung menyuguhkan segalanya, melewati hutan dan melihat sisi semesta dari arah yg berbeda merupakan bagian keindahan tersendiri bagi kita, terutama saya. 

Perjalanan ke gunung mempunyai kisah-kisah abadi yang hanya bisa terekam oleh otak dan panca indera, memulai pendakian di malam hari misalnya atau juga pagi hari. Semua gunung menyimpan misterinya sendiri, menyimpan kisahnya sendiri dan menyimpan bagian bagian penting yang akhirnya bergesekan dengan kita sebagai tamu di dalamnya. Kisah-kisah itu akan terus hidup meski kita sudah meninggalkan gunung yang pernah kita datangi. 

Bisikan panggilan suara wanita
Ketika pertama kali saya memulai mendaki gunung, saya mencobanya di Gunung Merbabu dari Desa Wekas. Bersama beberapa teman kost dari Jogja menaiki motor hingga desa wekas, sepanjang perjalanan dari Jogja di guyur hujan deras hingga sampai Desa Wekas. Waktu itu kami sampai malam hari di Desa Wekas, saya yang tak tahu apa-apa hanya Manut pada teman yang sudah berpengalaman. 

Target kami pos 2, tidak ada rencana sebelumnya untuk menggapai puncak. Sebagai seorang pemula waktu itu saya hanya Manut dan nurut apa kata senior dan yang sudah berpengalaman. Anda semua perlu tahu kalau seluruh team adalah laki-laki, semuanya pemula hanya tiga orang teman saja yang sudah berkali kali ke Merbabu melewati jalur ini. 

Sehabis mengisi perut di rumahnya warga yang dijadikan basecamp, kami menyiapkan diri untuk kembali bersiap siap dan packing. Jam 9 malam tepat, kami kemudian berkumpul kembali untuk berdoa agar perjalanan pendakian malam hari diberikan kelancaran. Waktu itu saya nomer dua paling belakang, setapak demi setapak kami lewati dari melewati kebun warga dan seketika kaget melihat rumah -rumahan kecil yang ternyata di dalamnya sebuah kuburan. Konon, kata beberapa orang warga desa kuburan itu adalah leluhur mereka, sebagian lagi bilang kalau kuburan itu adalah kuburan kyai Semar. Entahlah mana yang benar, yang jelas saya kaget melihat kuburan, secara saya baru pertama kali ke tempat beginian. 

Selepas pos 1 hingga menjelang pos 2, malam itu jam tangan menunjukkan jam 23.40 WIB menjelang dini hari. Sementara saya masih ngos-ngosan karena di hajar trek yang begitu curam dan sedikit sekali dapat bonus landai. Menjelang sampai pos 2 sebelum teman-teman memutuskan istirahat, sayup sayup saya mendengarkan suara perempuan yang memanggil nama saya tiga kali, "Fahmie, Fahmie, Fahmie" panggilan itu sangat jelas. Sebelum teman-teman duduk saya berusaha mencari sumber suara tersebut tanpa kompromi dulu dengan yang lain. Baru tiga langkah saya mau mencari sumber suara yang memanggil nama saya, teman saya berteriak memanggil saya sambil menyuguhkan air minum dan kacang. 

Sambil makan kacang saya masih memikirkan siapa yang manggil saya tadi, suara perempuan padahal semuanya team laki- laki. Sampai sekarang suara perempuan yang memanggil nama saya masih jadi misteri hingga saat ini, mungkin biarkan saja menjadi misteri yang tersimpan rapi di hadapan semesta yang maha misteri. 

Setelah beberapa menit istirahat, tibalah kami di pos 2 dengan di sambut badai. Beberapa teman saya mencari kayu bakar, mendirikan tenda diantara angin yang begitu kencang dan sebagian lagi memasak logistik untuk team. Sungguh malam itu kami semua tak bisa tidur hingga pagi menjelang, suara badai bersahut-sahutan dan angin yang bisa merobohkan tenda siapa saja. Lucunya ketika pagi hari, tenda sudah roboh oleh badai tapi teman saya masih tidur dengan nikmatnya, pakai ngorok pula.

Suara Gendruwo dan Monyet. 
Beberapa tahun setelah kejadian yang saya alami tersebut di Merbabu jalur desa wekas, saya kembali untuk ketiga kalinya ke Merbabu lewat desa ini. Entahlah, sepertinya saya mulai jatuh cinta dengan desa ini, desa yang sejuk dengan warganya yang ramah. 

Kedua kalinya saya mengantar teman dari Jakarta, ketiga kalinya juga sama ; mengantar teman dari Jakarta ketika hari kerja bukan pas weekend (Akhir Minggu). Waktu itu saya mendaki bertiga, teman saya dari Jakarta, saya dan saudara sepupu saya. Di mulai mendaki menjelang Maghrib, sepanjang jalur pendakian hanya beberapa pendaki yang kami temui, dan waktu itu saya heran karena jalur ini sepi banget. 

Ketika kami bertiga sampai di pos 1 Telaga Arum, sayup sayup kami mendengar ada rombongan pendaki yang sedang turun, koreksi ; sebagian pendaki lari. Ketika kami sedang asik istirahat menikmati suara adzan maghrib di pos 1, suara orang lari tersebut semakin kencang didengar hingga akhirnya sampai di pos 1 Telaga Arum. Satu orang laki -laki agak gemuk dan umurnya sekitar 34-an lari sendirian dari atas langsung duduk dan ngos-ngosan tepat di samping kami. Kami pun kaget, teman saya bertanya apakah dia sendirian saja atau ada rombongan di belakang, orang tersebut menjawab kalau temen-temennya ada di belakang, dia disuruh duluan agar tidak hypo. 

Dan ternyata pas kami sedang menanyakan teamnya, dia kedinginan hebat, secara refleks saya dan sepupu saya mencari kayu bakar sementara teman saya satunya memberikan pertolongan pertama ; mencopot sepatu dan mengoleskan minyak kayu putih agar lebih hangat. Untung saja teman saya membawa kayu pohon Pinus yang mengandung minyak, seketika kayu dikumpulkan langsung membakar kayu-kayu lainnya, orang itu minta di temenin sampai teamnya datang, dan kami menemai sampai temannya datang.

"Makasih ya mas sudah nemenin saya" jelasnya orang tersebut kepada kami
" Ya mas gapapa, saling membantu kalau di gunung mas hehe " jawab teman saya. 

Tidak berselang lama rombongan temannya datang dan bilang terima kasih kepada kami karena sudah nemenin teman mereka. Mereka kemudian langsung turun, setelah berpamitan, saya dan kedua teman saya melanjutkan perjalanan hingga pos 2. 

Beberapa jam menikmati jalan setapak, dengan santai tapi pasti kami bertiga sekitar jam 21.45 WIB sudah sampai di pos 2. Kami berencana setelah sampai di tempat camp langsung makan malam dan sehabis itu tidur. Pos 2 yang biasanya rame dengan pendaki, malam itu sepi sekali, tetangga sebelah tenda kami bertiga hanya berjumlah 12 orang selebihnya sepi. Tetangga sebelah ketika di tanya kapan rencana mau ke puncak, mereka bilang kalau ke puncak jam 12 malam biar dapat sunrise. 

Sehabis makan dan ramah tamah dengan tetangga sebelah, tepat jam 23.30 kami semua tidur. Diantara tidur, sayup-sayup saya sendiri mendengar tetangga sebelah berangkat ke puncak perkiraan jam 00.30. saya tidak mempedulikan mereka, karena capai saya hanya ingin tidur malam itu. 

Perkiraan waktu antara jam 02.00 pagi atau jam 02.30 pagi saya mendengar suara orang bertengkar, tapi itu bukan seperti suara manusia. Yang pertama saya mengenali itu suara monyet dan satunya seperti suara Gendruwo, suara itu nyata, nyata sekali. Suara itu kadang ada di depan tenda ,kadang seperti ada di belakang dan di samping. Ketika akhirnya saya ingat kalau ada sebagian logistik masih berada di luar. Saya tengok keluar tenda, ternyata tidak ada apa-apa, saya ketakutan. Saya coba bangunin saudara saya, ternyata dia juga dengar suara itu, sayup sayup kami berbisik pelan sekali,

"Kamu denger ga suara itu" tanya saya
"Ya aku denger " jawab saudara saya
"Kek suara monyet tapi satunya kek bukan suara manusia yang berantem " saya coba menjelaskan
"Yauda tidur sambil baca ayat kursi" jawab saudara saya.

Sementara teman saya malah ngorok, yang saya dengar malam itu suara Gendruwo dan Monyet yg bertengkar, sedangkan di tempat camp hanya ada tenda kami saja. Akhirnya malam itu saya memaksa tidur sambil nyumpel telinga hingga pagi. Dari saking takutnya saya. Saya tidak berani keluar malam itu, pagi harinya kami semua kesiangan, bangun jam 7 pagi, dan summit jam 08.00 pagi sehabis sarapan, sungguh pengalaman luar biasa mengerikan. 

( bersambung  )
Subscribe to: Posts (Atom)

sering dibaca

  • GILI LABAK, SEPOTONG SURGA DI TIMUR MADURA
    Full tim kecuali bapak-bapaknya ( Foto di pelabuhan Kalianget )  Di pagi hari itu, tanggal 25 mei 2014, tepat  jam 03.30 pag...
  • Merapi Jalur Kinahrejo
    Saya selalu tertarik dengan sesuatu yang berbau tradisi dan budaya, apalagi tentang hubungan antara gunung dengan masyarakat lereng n...
  • WISATA ALAM POSONG
    Lanskap Posong dengan latar Gunung Sindoro Hari minggu kemarin, saya menyempatkan mengisi liburan ke taman wisata alam Posong yang ter...
  • Gunung Lawu jalur Candi Cetho (cerita foto)
    Gunung Lawu terletak diantara Desa Karanganyar Jawa tengah  yang juga berbatasan dengan Magetan Jawa timur mempunya 3 jalur pendakian res...
  • Membaca Diri
    Pada perjalanan yg menghangatkan ingatan. Langkah kaki gontai mengarah pada tujuan yg tak kunjung datang. Pelantun lagu kebeb...
  • Merbabu, Jalur Suwanting.
    Seringkali saya menyebut  gunung merbabu sebagai rinjani-nya Jawa. Memiliki tekstur keindahan sendiri, termasuk dengan sabanany...
  • Gunung Prau Yang Menawan
    Beberapa kali saya ke Gunung Prau, beberapa kali juga saya melewatinya dari jalur Desa Patak Banteng. Dan baru kali ini saya ke Gunung P...
  • Rindu (MONOLOG PAGI)
    Menunggu senja di pantai dekat rumah Rumah bagi saya adalah tempat yang begitu teduh, nyaman dan tenang. Rumah adalah surg...

Copyright © #Travelnote
Created by Arlina Design | Distributed By Gooyaabi Templates